"Galih, Ratnanya mana?"
Petanyaan itu mungkin belasan atau puluhan kali ditanyakan ke saya. Ada yang maksudnya becanda, ada juga yang maksudnya menyindir. Menyindir karena saya belum berpasangan. he Semuanya insyaallah mengembangkan senyum baik yang bertanya maupun yang ditanya.
Galih dan Ratna merupakan film drama remaja Indonesia yang dirilis pada 9 Maret 2017 dan disutradarai oleh Lucky Kuswandi. Film ini adalah remake dari film Gita Cinta dari SMA yang dibuat tahun 1979, bahkan kedua pemeran utama film tersebut, yakni Rano Karno dan Yessy Gusman juga turut membintangi film ini. (Wikipedia)
Sejujurnya saya belum pernah menonton film Gita CInta dari SMA maupun Galih dan Ratna. Dengan demikian saya tak akan membahas kedua film tersebut. Oleh karena itu saya takkan membahas film Galih dan Ratna. Saya ingin berbincang-bincang mengenai "nama" dan "nama".
Rasanya kebanyakan kita pernah dicalonkan atau di adeuh-adeuh dengan seseorang. pencalonan itu kadang kali terjadi sampai beranjak dewasa, kebanyakanya sampai seseorang menggenapkan agamanya. Saya melihat banyak teman yang saling memasangkan seseorang dengan seseorang yang lain. Apa kamu pernah menjadi orang yang coba memasangkan atau memprediksi seseorang dengan seseorang? "Si eta jigana bakal jeung si eta"
Tidak hanya orang lain yang memprediksi pasangan, kadangkala kita yang memprediksi diri kita dengan orang lain. "Saya sama siapa ya? atau sama si itu kali ya?" Apa kamu pernah bertanya seperti itu atau hanya saya sendirian ya? hhe.. Ada lagi yang lebih ekstrem yakni berangan-angan yang menipu dan melalaikan kehidupannya.
Selagi sebagian orang memprediksi, dan sebagian dari kita juga memprediksi, Allah Yang Maha Menentukan kepada siapa "nama" akan dipasangkan dengan "nama". meski kita memprediksi dengan A boleh jadi menakdirkan dengan H. Dengan demikian, maka memprediksi dan atau berangan-angan menjadi tidak berfaedah.
Bila kita memprediksi dengan siapa kita akan berpasangan, lalu betul-betul berpasangan, maka begitulah takdirnya dan itulah takdir terbaiknya. Bila kita memprediksi dengan siapa kita akan berpasangan lalu Allah takdirkan dengan orang lain maka itulah takdir terbaik. Apakah tak bersama yang diprediksi merupakan sebuah kegagalan atau kesalahan? Ketahuilah bahwa Allah Maha Tahu yang terbaik untuk hambanya. oleh karena itu, takdir yang kita terima merupakan kehendak dari Allah azza wa jalla.
Beruntunglah ia yang sadar bahwa Allah yang memasangkan "nama" dengan "nama". Bahkan boleh jadi kita tak perlu memprediksi, kita hanya memerlukan ikhtiar dan tawakal yang bulat kepada Allah. Sungguh saat seorang hamba berusaha dengan lurus maka Allah akan menolong hamba tersebut. Allah akan bimbing hatinya, matanya, kakinya, ucapannya, sikapnya, dan semua hal yang menjadi penunjang menjadi unsur-unsur bersatunya "nama" dengan "nama".
Jadi, "Galih, Ratnanya mana? ingin saya jawab dengan, "InsyaAllah cukup dengan Risa".
Petanyaan itu mungkin belasan atau puluhan kali ditanyakan ke saya. Ada yang maksudnya becanda, ada juga yang maksudnya menyindir. Menyindir karena saya belum berpasangan. he Semuanya insyaallah mengembangkan senyum baik yang bertanya maupun yang ditanya.
Galih dan Ratna merupakan film drama remaja Indonesia yang dirilis pada 9 Maret 2017 dan disutradarai oleh Lucky Kuswandi. Film ini adalah remake dari film Gita Cinta dari SMA yang dibuat tahun 1979, bahkan kedua pemeran utama film tersebut, yakni Rano Karno dan Yessy Gusman juga turut membintangi film ini. (Wikipedia)
Sejujurnya saya belum pernah menonton film Gita CInta dari SMA maupun Galih dan Ratna. Dengan demikian saya tak akan membahas kedua film tersebut. Oleh karena itu saya takkan membahas film Galih dan Ratna. Saya ingin berbincang-bincang mengenai "nama" dan "nama".
Rasanya kebanyakan kita pernah dicalonkan atau di adeuh-adeuh dengan seseorang. pencalonan itu kadang kali terjadi sampai beranjak dewasa, kebanyakanya sampai seseorang menggenapkan agamanya. Saya melihat banyak teman yang saling memasangkan seseorang dengan seseorang yang lain. Apa kamu pernah menjadi orang yang coba memasangkan atau memprediksi seseorang dengan seseorang? "Si eta jigana bakal jeung si eta"
Tidak hanya orang lain yang memprediksi pasangan, kadangkala kita yang memprediksi diri kita dengan orang lain. "Saya sama siapa ya? atau sama si itu kali ya?" Apa kamu pernah bertanya seperti itu atau hanya saya sendirian ya? hhe.. Ada lagi yang lebih ekstrem yakni berangan-angan yang menipu dan melalaikan kehidupannya.
Selagi sebagian orang memprediksi, dan sebagian dari kita juga memprediksi, Allah Yang Maha Menentukan kepada siapa "nama" akan dipasangkan dengan "nama". meski kita memprediksi dengan A boleh jadi menakdirkan dengan H. Dengan demikian, maka memprediksi dan atau berangan-angan menjadi tidak berfaedah.
Bila kita memprediksi dengan siapa kita akan berpasangan, lalu betul-betul berpasangan, maka begitulah takdirnya dan itulah takdir terbaiknya. Bila kita memprediksi dengan siapa kita akan berpasangan lalu Allah takdirkan dengan orang lain maka itulah takdir terbaik. Apakah tak bersama yang diprediksi merupakan sebuah kegagalan atau kesalahan? Ketahuilah bahwa Allah Maha Tahu yang terbaik untuk hambanya. oleh karena itu, takdir yang kita terima merupakan kehendak dari Allah azza wa jalla.
Beruntunglah ia yang sadar bahwa Allah yang memasangkan "nama" dengan "nama". Bahkan boleh jadi kita tak perlu memprediksi, kita hanya memerlukan ikhtiar dan tawakal yang bulat kepada Allah. Sungguh saat seorang hamba berusaha dengan lurus maka Allah akan menolong hamba tersebut. Allah akan bimbing hatinya, matanya, kakinya, ucapannya, sikapnya, dan semua hal yang menjadi penunjang menjadi unsur-unsur bersatunya "nama" dengan "nama".
Jadi, "Galih, Ratnanya mana? ingin saya jawab dengan, "InsyaAllah cukup dengan Risa".
Komentar
Posting Komentar