Terimakasih Ya Allah

Terimakasih Allah

Atas segala kasih sayangMu,  lewat seseorang yang begitu tulus menyayangi dan mengasihi.  Terimakasih ya Allah, atas segala kesempatan untuk membahagiakannya.  Tumbuh bersamanya,  tertawa bersama bercerita,  berusaha bersama dalam merintis bisnis yang saya pertahankan hingga sekarang.

Bahkan di waktu-waktu terkahir kebersamaan itu (9 Maret 2020).  Engkau sempatkan hamba untuk bertemu dengannya.  Hamba bercerita banyak tentang kondisi hamba saat itu kepadanya.  Ia tampak senang saat itu dengan kehadiran hamba disisinya. Melihat cucunya yang sudah mulai aktif selepas dari sakit.

Ya Allah,  Engkau pun memberikan kesempatan untuk berdiskusi sejenak dengannya terkait berapa meter saya harus beli kain untuk bikin gamis yang cantik itu. 

Ya Rabb..  Pertemuan singkat itu sangat berarti.  Sangat terkenang di hati ini.  Bahkan saat titik saya harus kembali ke rumah.  Ia sangat hangat melepas hamba pergi dari rumah.  Tak lupa memberikan bekal seadanya meski hanya beberapa potong roti dan coklat pemberian dari kakak. Ku cium terkahir tangannya yang sudah keriput itu dan mengucapkan salam terkahir kalinya. 

Namun ia tetap saja di pintu tidak pergi sambil memandang anak bungsunya ini pergi.  Rasa hati saat itu sangat pilu..  Karena tidak bisa berlama-lama ditempatnya.  Terbelsit dalam hati, apakah sebentar lagi ibu akan pergi? Apakah ini sakit terakhirnya? Saya niatkan saat itu. Besok saya harus ke rumahnya lagi meski hanya sebentar.

Esok pun tiba, entah kenapa akhir-akhir ini Allah mudahkan saya untuk bangun tahajud.  Biasanya kalau bangun, bayi saya ikut bangun. Sehingga tahajud hanyalah niat yang tertunda.

Di dalam tahajud ada banyak sekali doa yang ingin terucap.  Termasuk doa agar ibu bisa sehat kembali.  Keadaan bisa normal kembali.

Sekitar Pkl.  07.00 Suami yang datang dari tempat kerjanya langsung menyuruh saya untuk bersiap-siap. Saya kurang merespon cepat saat itu, saya hanya banyak pertanyaan. Kenapa?  Ngapain? Akhirnya suami pun mengatakan dengan kalimat terputus-putus bahwa Ibu sudah meninggal.

Ya Allah,  baru kemarin kita bersama.  Hari ini saya tidak bisa bertemu lagi.  Ibu sudah tiada.  Rasa hati yang begitu aman pedih,  karena saya tidak membersamainya saat ia sedang kesusahan menghadapi mautnya.  Mamah jangan dulu meninggal.  Anakmu ingin masih bertemu.

Di rumah almarhum
Suara ambulan dan kenangan itu hadir lagi.  Dulu jasad bapak yang datang dan sekarang sosok wanita baik hati itu datang dengan wajah ditutup oleh kain.
"Mamah, mamah,"  ia tidak merespon.  Ia sudah tidak bernyawa lagi ya Allah.  Mamah ini icha.. Matanya tetap tertutup. Wajahnya sangat pucat dan dingin.   Berbeda sekali dengan kemarin yang menyambutmu dengan senyum khasnya yang hangat sambil duduk memakai mukena dan memengang al-quran di ruangan yang sama.

Ya Allah..  Engkau beri nikmat di akhir cerita yang sangat indah bersamanya.  Kini wanita baik itu telah selesai tugasnya di dunia.  Ia yang selalu mengatakan, kalau mamah meninggal.  Atau Ya Allah semoga saya meninggal tidak sakit lama-lama.  Doanya selalu khusyu,  tahajudnya tidak tertinggal,  dzikir setelah sholatnya yang lama.  Membuat saya yakin kalau Ibu di cintai Allah.

Sedangkan saya ingin bertemu lagi dengan sosok wanita baik yang selalu melindungiku ini.  Maka,  sayapun berharap agar mampu bisa membersamainya di syurga.  Semoga saya bisa memeluknya kembali di syurga.
Ya Allah terimakasih, sudah menganugrahkan ibu yang sangat baik hati yang tulus, menjadikanku saat ingin taat kepada perintahmu. Ya Allah, pertemukan kami kembali di syurga Mu.

10 Maret 2020

Komentar

  1. MasyaAllah yang sabar yaa teh ica, smoga mmh teteh husnul khotimah dn di tempatkan d tempat terbaikNya.. Smoga kelak d pertemukan dan di kumpulkan kembali di FirdausNya... Al-Fatihah,,Aamiin yaa Roob..

    BalasHapus

Posting Komentar